Kepimpinan Syar'i dan karakter seorang pemimpin

Kepimpinan Syar'i dan karakter seorang pemimpin 

usai sudah ijtima ulama dan tokoh nasional yang di gelar GNPF ulama di jakarta, pada tanggal 27-29 juli 2018. pertemuan tersebut, salah satunya menghasilkan rekomendasi nama capres dan cawapres untuk pilpres 2019. Yang di usung sebagai capres adalah prabowo subianto adapun cawapresnya antara Habib salim segaf Al-jufri dan ustadz Abdul Somad
tentu, pasangan tersebut bukanlah 100% sempurna. tidak semua peserta ijtima juga setuju secara aklamasi. bahkan GNPF ulama itu juga belum tentu dilaksanakan oleh partai kontestan pilpres 2019 (kiblat.net/30/07/2018)
umat saat ini tentu merindukan kepimpinan syar'i. sebabnya kesadaran keislaman mereka semakin meningkat. selain itu mereka juga sesungguhnya telah muak dengan sistem sekular-kapitalisme-liberal yang terbukti gagal. sistem ini hanya memproduksi banyak persoalan seperti : kemiskinan, pengangguran, utang luar negeri dan lain-lain
namun demikian berbicara tentang kepimpinan syar'i sesungguhnya berbicara tentang dua hal : sosok pemimpin dan sistem kepemimpinan.  keduanya harus sesuai dengan syari'ah.
1. pemimpin syar'i
saat membincangkan sistem pemerintahan islam, syaikh taqiyuddin an-nabhani dalam kitam nizham al-hukm fi al-islam syarat - syarat syar'i yang wajib pada seorang pemimpin yaitu :
1. muslim
2. laki-laki
3. Dewasa
4. Berakal
5. Adil
6. merdeka
7. mampu melaksanakan amanah
syaikh An-nabbhani juga menyebutkan syarat tambahan bagi seorang pemimpin di antaranya :
1. Mujtahid
2. Pemberani
3. Politikus ulung
syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al-Afkar as-siyasiyyah juga menyebutkan beberapa karakter seorang pemimpin yaitu :
pertama, Berkepribadian kuat. orang lemah tidak pantas menjadi pemimpin. Abu Dzar ra, pernah memohon kepada Rasulullah saw, untuk menjadi pejabat, namun Rasullullah bersabda :
"Abu Dzar kamu ini lemah, sementara jabatan ini adalah amanah. pada hari pembalasan amanah itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil amanah tersebut sesuai dengan haknya dan menunaikan kewajiban dalam kepimpinannya (HR. Muslim)
kedua, bertakwa sulaiman bin Buraidah dari bapaknya, menuturkan "Rasulullah saw, jika mengangkat seorang pemimpin pasukan atau suatu ekspedisi pasukan khusus, senantiasa mewasiatkan takwa kepada dirinnya" (HR. Muslim)
seorang pemimpin yang bertakwa akan selalu menyadari bahwa allah swt senantiasa memonitor dirinya dan dia akan selalu takut kepada-Nya. Dengan demikian dia akan menjauhkan diri dari sikap sewenang-wenang (zalim) kepada rakyat maupun terhadap urusan mereka.
ketiga, memiliki sifat welas asih ini diwujudkan secara konkret dengan sikap lembut dan bijak yang tidak menyulitkan rakyatnya. Terkait ini Rasulullah pernah berdo'a " ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia. Siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut kepada mereka, maka lembutlah kepada dia (HR. Muslim)
Abu Musa Al-Asy'ari ra, saat di utus menjadi wali/gubenur di Yaman, Menyatakan bahwa Rasulullah saw pun pernah bersabda :
"Gembirakanlah Rakyat dan janganlah engkau hardik, permudahkanlah urusan mereka dan jangan engkau persulit (HR. Al-Bukhari)
keempat, penuh perhatian kepada rakyatnya Ma'qil bin Yasar menuturkan bahwa Rasulullah saw, pernah bersabda :" siapa saja yang memimpin pemerintahan kaum muslim, lalu dia tidak serius mengurus mereka, dan tidak memberikan nasihat yang tulus kepada mereka maka dia tidak akan mencium harumnya aroma surga(HR. Muslim)
Kelima, Istiqomah memerintah dengan syariah, diriwayatkan bahwa Muadz bin Jabal, saat diutus menjadi wali/gubenur Yaman, ditanya oleh Rasulullah saw ," Dengan apa engkau memutuskan perkara??" Muadz menjawab " dengan kitabullah. Rasulullah saw bertanya lagi," Dengan apalagi jika tidak mendapatinya (di dalam Al-Qur'an) ? " Muadz menjawab" Dengan sunah Rasulullah". Rasulullah bertanya lagi," dengan apalagi jika tidak mendapatinya (di dalam Al-Qur'an dan as-sunnah?" Muadz menjawab, aku akan berijtihad kemudian Rasulullah saw berucap", segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah ke jalan yang di sukai oleh Allah dan Rasul-Nya (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Baihaqi)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel